Sabtu, 07 Nov 2026 Semarang RayaUmumBisnisPendidikanGaya Hidup
Beranda › Umum
Umum

Anak dan Remaja Rentan Direkrut Kelompok Radikal, Literasi Digital Jadi Benteng Pencegahan

✍️ Sakti Setiawan 🕒 07 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
Anak dan Remaja Rentan Direkrut Kelompok Radikal, Literasi Digital Jadi Benteng Pencegahan

TEMANGGUNG – Anak-anak menjadi salah satu kelompok rentan yang berpotensi menjadi sasaran perekrutan kelompok radikal melalui media sosial dan berbagai platform digital. Kondisi psikologis yang masih berkembang, rendahnya literasi digital, serta mudahnya pengaruh lingkungan membuat mereka perlu dibekali kemampuan mengenali dan mengantisipasi paparan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).

Upaya pencegahan tersebut dilakukan melalui kegiatan Advokasi Cegah IRET Gen Z di Ruang Digital yang digelar Bacaaja.co bersama Satgaswil Jateng Densus 88 Antiteror, Polres Temanggung, dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung.

Kegiatan yang didukung Bank Mandiri tersebut melibatkan perwakilan pelajar SMP se-Kabupaten Temanggung dan berlangsung di Kantor Dindikpora Kabupaten Temanggung, Rabu (4/11/2026).

Kepala Tim Idensos Satgaswil Jateng Densus 88 Antiteror, Ipda Ferry, menjelaskan anak-anak rentan menjadi sasaran perekrutan karena berada dalam fase pencarian jati diri. Pada masa tersebut, mereka cenderung memiliki kondisi emosional yang belum stabil, mudah terbawa suasana, serta rentan terpengaruh konten di media sosial maupun gim daring.

Selain itu, keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan dianggap hebat juga dapat dimanfaatkan kelompok radikal untuk mendekati anak-anak.

“Pada kondisi seperti ini, anak menjadi lebih mudah direkrut kelompok radikal teror,” ungkap Ferry di hadapan para pelajar SMP se-Kabupaten Temanggung.

Menurut dia, pengalaman menjadi korban perundungan atau bullying juga dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap pengaruh kelompok tersebut.

Karena itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai risiko paparan radikalisme, sekaligus membekali mereka kemampuan mengidentifikasi dan melakukan mitigasi secara mandiri.

“Jadi perlu kerja sama, bagaimana membuat anak-anak paham dengan risiko tersebut, sekaligus bagaimana mengidentifikasi dan memitigasinya,” sambungnya.

Ferry mengimbau para pelajar agar tidak berinteraksi lebih jauh dengan konten yang mengandung unsur kekerasan maupun kebencian di media sosial. Jika menemukan konten semacam itu, mereka diminta memblokir dan melaporkannya, menyimpan bukti tangkapan layar, serta menyampaikan temuan tersebut kepada guru, orang tua, maupun pihak berwenang.

Dia juga mengungkapkan bahwa kasus anak terpapar paham radikalisme dan terorisme telah ditemukan di sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah.

“Di Jawa Tengah, anak terpapar radikalisme dan terorisme juga terjadi. Secara nasional, kasus serupa tersebar di berbagai provinsi. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan pencegahan ini,” jelasnya.

Psikolog Soegijapranata Catholic University (SCU), Kuriake Kharismawan, turut menekankan pentingnya menanamkan pemahaman kepada anak-anak mengenai kehidupan dalam keberagaman.

Menurut dia, perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus dihargai dan dirawat.

“Apalagi sekarang dunia digital membuat semuanya masuk ke HP (ponsel) kita,” kata Kuriake yang akrab disapa Kak Ake.

**Peluang Positif, tetapi Tetap Harus Waspada**

Kepala Satuan Intelijen Keamanan Polres Temanggung, AKP Tanu Eko Putro, yang turut menjadi pemateri, mengakui perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi secara cepat.

Namun, di balik manfaat tersebut, ruang digital juga dipenuhi berbagai konten negatif, mulai dari pornografi, ujaran kebencian, hingga penyebaran informasi palsu.

“Tetapi di sisi lain, di ruang digital juga masif sekali konten-konten negatif, seperti pornografi, ujaran kebencian, hingga informasi palsu,” paparnya.

Dia mengingatkan para pelajar agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama dengan tidak sembarangan membagikan foto maupun aktivitas pribadi kepada orang yang tidak dikenal.

Selain itu, pelajar diminta menghindari perilaku perundungan digital atau cyberbullying karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi korbannya.

“Jika menemukan hal negatif di media sosial, bisa di-screenshot untuk dijadikan alat bukti. Nantinya, unsur kepolisian yang akan melakukan penyelidikan untuk mengungkapnya. Karena basic kita pelajar, fokuslah belajar dan capailah keinginan kedua orang tuamu,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang PSM Dindikpora Kabupaten Temanggung, Isro Hendar Saputro, menyampaikan bahwa pengaruh negatif dunia digital yang tidak diantisipasi dengan baik berpotensi memicu berbagai bentuk kenakalan di kalangan pelajar.

Karena itu, edukasi mengenai penggunaan teknologi secara bijak perlu diberikan agar siswa mampu memanfaatkan ruang digital secara positif sekaligus menghindari berbagai risiko yang menyertainya.

Kepala Dindikpora Kabupaten Temanggung, Djoko Prasetyo, mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga dalam upaya memberikan perlindungan dan edukasi kepada para pelajar.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki kekayaan suku, bahasa, budaya, dan keyakinan. Keberagaman tersebut perlu dipahami generasi muda sebagai kekuatan bangsa yang harus dijaga.

“Hari ini anak-anak kita diberi pemahaman bagaimana cara melihat Indonesia dengan segala perbedaannya,” ungkapnya.

Djoko berharap kegiatan kolaboratif semacam ini dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran pelajar sekaligus menjaga masa depan generasi muda dari pengaruh negatif di ruang digital.**

SS
Sakti SetiawanPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update