Minggu, 08 Nov 2026 Semarang RayaUmumBisnisPendidikanGaya Hidup
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

3 Novel yang Cocok Dibaca selama Bulan Puasa, Cerita tentang Perempuan dan Pondok Pesantren

✍️ Noorchasanah Anastasia 🕒 14 Apr 2023 👁️ 7x dibaca
Ilustrasi rekomendasi buku bacaan. (Sumber : Freepik)
Ilustrasi rekomendasi buku bacaan. (Sumber : Freepik) Foto: Freepik

Berikut ini tiga buku yang bisa menjadi rekomendasi bacaan selama bulan Ramadan. Buku-buku ini mengisahkan tentang seorang perempuan di pondok pesantren.

INFOSEMARANG.COM -- Berikut ini tiga buku yang bisa menjadi rekomendasi bacaan selama bulan Ramadan.

Buku-buku ini mengisahkan tentang seorang perempuan di pondok pesantren.

Simak penjelasannya yang dirangkum dari nu.or.id berikut:

Dua Barista

Novel ini ditulis oleh Najhaty Sharma, berkisah tentang santri yang pandai dan aktif dalam kegiatan di madrasah.

Kecakapannya dalam berbagai hal membuat si santri sukses membuka butik untuk menjual karyanya.

Baca Juga: 6 Situs untuk Baca Buku Rekomendasi Terbaik, Ada Fitur Rak Buku Online

Ia juga akhirnya menjadi seorang istri dari kiai muda.

Di balik hidupnya yang terlihat sempurna, keturunan pun menjadi soal serius yang harus dihadapi.

Dikhawatirkan tak bisa memberi keturunan, pihak keluarga suami pun meminta izin untuk menikah lagi.

Terpilih seorang santri yang memang sering melayani keduanya hingga beragam masalah pun datang menjadi konflik yang cukup panjang.

Hilda

Ditulis oleh Muyassarotul Hafidzoh, novel berkisah tentang perempuan yang memiliki masa lalu kelam.

Ia pernah dijebak teman-temannya hingga mabuk berat bahkan berujung diperkosa.

Perempuan itu berusaha melupakan hal kelam di hidupnya hingga memutuskan masuk ke pesantren.

Setelah menjadi santri, ia menemukan kenyamanan namun di sisi lain timbul masalah lainnya.

Sampai ia bertemu dengan pengasuh pesantrennya, seorang nyai yang akhirnya menjadi sosok panutannya.

Hati Suhita

Novel karya Khilma Anis yang berkisah tentang perjodohan di pondok pesantren.

Seorang putra kiai tidak ingin dijodohkan namun harus tetap melakukannya agar tak menyakiti perasaan orangtuanya.

Sementara itu pihak perempuan mencoba menerima perjodohan ini.

Ia harus menelan pil pahit karena tidak diinginkan oleh si pria putra kiai.

Namun seiring berjalannya waktu, ia mengobati hatinya dengan mengajar di madrasah milik mertuanya.

Hingga konflik pun datang di dalam pernikahan keduanya.

(*)

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update